Dewangga dan Laras tumbuh di antara tawa masa kecil, di kampung kecil Banyuwangi yang hangat. Mereka saling menyukai sejak remaja, menyimpan rasa di antara ledekkan dan tatapan diam-diam. Tapi cinta mereka bukan cinta yang mudah. Bukan karena tak saling mencintai, melainkan karena langit tempat mereka bersujud berbeda arah.
Saat larangan orang tua, pandangan masyarakat, dan perbedaan keyakinan membayangi langkah mereka, Dewangga dan Laras memilih bertahan. Mereka bertahan dengan segala cara, demi satu harapan, bisa tetap saling menggenggam meski dunia memaksa untuk melepaskan.