Saat gamelan itu dimainkan, mereka tanpa sadar membuka segel mantra kuno Tatu Jiwo—membebaskan arwah Martidiayani, atau Ayani, sosok perempuan berkebaya hijau dengan dendam yang telah tertidur selama berabad-abad. Kelompok Pitu Pitutur kini terjebak dalam pertunjukan maut. Satu per satu teman Radi mulai tewas dengan cara yang mengerikan—tubuh tanpa kepala, wajah yang melebur di atas kompor, hingga tulang-tulang yang dipatahkan oleh tangan tak kasat mata. Sebuah obsesi untuk menang memaksa Radi Cokrokusumo melakukan hal yang terlarang —mencuri gamelan kuno dari pendopo ayahnya sendiri. Apa yang awalnya hanya terlihat sebagai usaha membawa pulang medali emas dalam lomba karawitan, berubah menjadi pintu menuju malapetaka. Apakah Radi mampu menyelamatkan dirinya sendiri dan teman-temannya yang tersisa, atau mereka semua akan menjadi korban dalam pementasan terakhir Ayani di Bumi Pati Diayani?.